Bukan Hari Guru, Tapi Inilah Hari-harinya Guru
Pagi tadi, seperti biasa saya datang ke asrama 2 Rumah Tahfidz Bakti Ilaahi yang berada di kawasan Timur Indah sekitar pukul 07.10 pagi. Para santri terlihat sudah mulai menyiapkan diri untuk masuk, tampak seorang santri sedang membagikan makanan di piring teman-temannya. Oh, sepertinya lauk datang agak telat.
Saya bergegas masuk ke Mushola asrama, meminta para santri masuk, karena biasanya pukul 07.15 mereka sudah harus berdzikir bersama sebelum memulai pembelajaran.
Tak banyak yang berbeda pagi. Sebagian santri menyiapkan hafalan baru dan sebagian yang lainnya me-murojaah hafalan mereka karena sedang persiapan tasm' 1 juz dan kelipatan 5 juz. Biasanya memang sebelum pukul 09.00 saya "menagih" santri yang menyetorkan hafalan baru (ziyadah). Kadang, memang ada sebagian kecil yang belum bisa setoran sampai pukul 09.00. Biasanya, saya minta mereka berdiri setelah waktu istirahat sebagai iqab (hukuman). Hari itu ada 2 orang yang kena iqab. Belum ada yang aneh, karena memang 2 orang ini termasuk santri yang memang butuh effort lebih untuk mendapatkan hafalan baru.
Selesai waktu istirahat, giliran santri yang mempersiapkan ujian tasmi' saya tagih. Biasanya per ½ juz, atau kalo memang berat boleh ¼ juz. Saya tagih, belum ada yang maju. Sebagian hanya senyam-senyum, ada yang menunduk saja, tak seperti biasanya, bahkan ada yang malah naikin kudanya Kayla 😠(ananda dari ustadz Alfan).
Dalam hati mulai campur aduk, tapi berusaha untuk rileks. Biar tambah rileks akhirnya minta salah seorang santri untuk buat kopi, kali aja kan otak mumetnya berkurang 🤣. Singkat cerita kopi pun datang.
Akhirnya saya panggil lagi, ada yang masih bertahan dengan senyum tipisnya, ada juga yang akhirnya luluh maju. Saya simak, selesai sekitar 5 halaman. Saya kira yang lain bakal maju setelah temannya maju. Justru sebaliknya, ada yang semakin main-main. Bahkan ada yang sampai harus saya pisahkan saking tidak kondusifnya. Setelah dipisahkan pun ternyata malah ngobrol sama yang lain 🥲
Semakin ga karuan, biasanya saya marah. Tapi karena sadar hari itu Hari Guru, jadi sedikit direm lah ya 🤣 Kita seruput kopi dulu lah.
Belum cukup sampai di situ, kemudian ada 2 orang santri yang berbisik-bisik, sambil senyam-senyum. Saya tanya bisikin apa, tidak dijawab. Sambil sedikit dipaksa, belum juga mau dijawab. Makin kesal lah kita hari itu. Benar-benar tidak seperti biasanya.
Sebelum istirahat siang, saya kumpulkan mereka. Biasanya memang ada waktu 10 menitan buat motivasi atau lainnya. Tadi, saya angkat tema tentang Hari Guru. Intinya di pembahasan tadi, memberikan pemahaman bahwa sebenernya guru yang baik tidak pernah menginginkan apa-apa dari muridnya, mereka hanya ingin anak didiknya menjadi lebih baik. Itu saja. Sekaligus juga memahamkan bahwa jika seorang guru marah, pada dasarnya mereka ingin kita lebih baik.
Selesai ISHOMA, pukul 13.00 saya masuk. Harapannya di waktu siang ini lebih kondusif dari tadi pagi. Namun ternyata tidak ada bedanya dengan pagi tadi 😌. Tapi kali ini dengan sedikit drama, beberapa santri izin ke toilet dalam waktu bersamaan, salah satunya sebut saja Fulan.
Fulan ini memang dari pagi tadi menjadi salah satu yang sangat tidak kondusif. Singkat cerita, di saat yang lain sudah kembali di toilet, dia belum juga kembali. Sampai akhirnya, dapat kabar dari yang lain kalo Fulan berkelahi dari Fulan yang lain.
Sampai detik ini belum sadar kalo itu rangkaian drama yang sengaja mereka buat 🤣🤣. Saya cuma dapat kabar kalo ustadz Alfan sudah memanggil mereka. Dalam benak saya, ya sudah lah. Nanti kalo saya ikut ke sana malah makin runyam 🫢.
Sampai akhirnya saya sadar, sepertinya mereka mereka memancing saya ke luar. Ada yang bilang, "ustadz, coba lihat dulu". Saya cuma diam, semakin sadar itu hanya pura-pura. Terdengar dari luar, nampaknya ustadz Alfan sudah kena drama mereka 😅.
Tak lama, para santri kelompok saya yang tadi keluar tanpa pamit, akhirnya masuk (biasanya sholeh-sholeh, kalo mau keluar pamit pasti, rela nunggu lama kalo belum diizinkan).
Dan benar saja, sambil tersenyum lebar membawa semacam bingkisan, berupa snack-snack ringan, bahkan yang yang bawa terong dan cabe 🤣
Soal pemberian bingkisan, saya ga mau panjang lebar ya. Kita ambil jalan tengah, bingkisan tadi dibagikan lagi ke mereka.
Saya diam sejenak. Rasa haru pasti ada, tapi juga ada rasa bersalah karena nampaknya tidak sesuai rencana mereka, hihi.
Selang beberapa waktu, akhirnya saya bicara. Mengucapkan terimakasih atas apa yang mereka usahakan dan meminta maaf atas kekurangan selama ini.
Momen ini juga saya jadikan kesempatan, untuk memberikan pemahaman yang mungkin belum bisa mereka mengerti.
Selama ini saya memang menerapkan prinsip yang cukup berbeda sebagai seorang guru.
Saya berusaha untuk tidak terlalu keras sehingga mereka tidak suka, tapi juga tidak mau terlalu lembut hanya untuk membuat mereka suka.
Hampir sebagian besar kesalahan yang dirasa harus diperbaiki, saya tegur. Sebagian lagi, saya biarkan karena memang masih bisa ditolerir.
Di lain waktu, saya berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk mereka. Waktu, tenaga, pikiran bahkan mungkin materi.
Semua ini kami pelajari dari guru-guru kami, beliau membentuk kami untuk bisa mencurahkan segalanya untuk generasi umat ini.
Mudah-mudahan nanti kita dikumpulkan di surga Allah. Aamiin.


Gabung dalam percakapan